Kamis, Mei 21, 2026

Karawang, West Java

spot_imgspot_img

BERITA LAINNYA

spot_img

Related Posts

Mental Keluarga Pasien Terguncang, Dugaan Penolakan di IGD RSUD Rengasdengklok Tuai Kecaman

Mental Keluarga Pasien Terguncang, Dugaan Penolakan di IGD RSUD Rengasdengklok Tuai Kecaman

KARAWANG – Dugaan pelayanan tidak humanis di RSUD Rengasdengklok kembali menjadi sorotan publik setelah keluarga Intania Putri (16), warga Kampung Pangakaran, Desa Tambaksumur, Kecamatan Tirtajaya, mengaku mengalami tekanan mental dan rasa kecewa mendalam saat membawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Saat itu keluarga datang dengan harapan Intania segera mendapat penanganan medis karena kondisi pasien yang membutuhkan pertolongan cepat.

Pasien bahkan dibawa dengan pendampingan tenaga medis dari Puskesmas Tirtajaya.

Namun menurut pengakuan keluarga, bukannya langsung mendapatkan pelayanan medis, mereka justru menerima pertanyaan dan nada bicara keras dari oknum petugas IGD terkait prosedur pasien yang disebut harus melalui sistem Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Berita Lainnya  Kuasa Hukum Ade Kuswara Kunang Pertanyakan Prosedur OTT oleh KPK

“Kami datang dalam keadaan panik ingin anak kami cepat ditolong. Kami orang awam tidak paham soal SPGDT,” ujar keluarga pasien dengan nada sedih.

Keluarga mengaku kondisi tersebut membuat mental dan psikologis mereka terguncang. Di tengah rasa takut kehilangan anggota keluarga, mereka justru merasa tidak mendapatkan empati maupun komunikasi yang baik dari pihak rumah sakit.

“Kalau memang ada aturan atau kondisi rumah sakit penuh, seharusnya dijelaskan dengan baik, bukan dengan nada yang membuat keluarga pasien merasa ditolak dan semakin tertekan,” ungkap keluarga.

Kekecewaan keluarga semakin mendalam karena RSUD Rengasdengklok merupakan rumah sakit milik pemerintah daerah yang seharusnya menjadi contoh pelayanan kesehatan yang profesional, ramah, dan mengedepankan sisi kemanusiaan terhadap pasien maupun keluarga pasien.

Berita Lainnya  Dari Karawang untuk Karawang, GOKAR Resmi Terapkan Sistem Komisi Lebih Tendah bagi Diriver

Akibat merasa tidak mendapatkan pelayanan yang nyaman, keluarga akhirnya memutuskan membawa Intania keluar dari RSUD Rengasdengklok. Beruntung, pasien kemudian berhasil mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Hastien Rengasdengklok.

Kasus ini kini menuai perhatian masyarakat luas dan awak media. Sejumlah awak media menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga adanya penjelasan resmi dan tindakan nyata dari pihak terkait.

Tim awak media juga berencana mendatangi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang guna meminta klarifikasi serta mendesak evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan IGD di RSUD Rengasdengklok.

Beberapa poin yang dinilai perlu segera dilakukan antara lain:

Berita Lainnya  Hajat Bumi Babarit Rengasdengklok: Meneguhkan Trisula Identitas Sunda, Islam, dan Indonesia

Evaluasi pelayanan IGD dan sistem penerimaan pasien darurat.
Pembinaan terhadap tenaga medis terkait etika komunikasi kepada pasien dan keluarga pasien.

Evaluasi penerapan sistem SPGDT agar masyarakat awam tidak kebingungan saat kondisi darurat.

Memastikan pelayanan kesehatan tetap mengutamakan nilai kemanusiaan tanpa membedakan status pasien.

Masyarakat berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang segera turun tangan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Rumah sakit daerah harus menjadi tempat masyarakat mencari harapan, bukan tempat yang membuat mental keluarga pasien hancur karena merasa ditolak saat membutuhkan pertolongan,” ujar salah satu warga.

Awak media memastikan akan terus memantau perkembangan kasus ini demi mendorong perbaikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Karawang.

. Boleng

spot_img

TOP NEWS

spot_img

PEMERINTAHAN

ARTIKEL POPULER