China, Italia, India dan AS Kunjungi Gempol Kolot, Kades Sunardi: Ini Kebanggaan dan Momentum Besar Bagi Petani

KARAWANG – Pemerintah Desa Gempol Kolot, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, memberikan apresiasi dan ucapan selamat atas terselenggaranya kegiatan kunjungan tamu dari empat negara, yakni China, Italia, India dan Amerika Serikat, dalam rangka kegiatan Welcome Participants Pilot Project: Strengthening Mechanization Based Solutions for Climate Smart Crop Residue Management in Indonesia. Kegiatan yang berlangsung sejak 31 Agustus hingga 2 September 2026 tersebut dilaksanakan dalam kolaborasi bersama UN ESCAP-CSAM dan BRMP Mektan.
Kehadiran para peserta dari berbagai negara tersebut menjadi sebuah momentum penting bagi Desa Gempol Kolot, khususnya dalam memperkenalkan perkembangan teknologi serta pola pertanian modern kepada masyarakat dan kelompok tani di wilayah tersebut. Pemerintah Desa Gempol Kolot menilai kunjungan tersebut bukan hanya menjadi sebuah kegiatan seremonial, tetapi juga membuka wawasan baru bagi masyarakat mengenai pentingnya penerapan mekanisasi pertanian dan pengelolaan sisa hasil tanaman yang lebih modern, efektif serta ramah terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan berbagai pendekatan pertanian modern yang mengedepankan pemanfaatan teknologi dan mekanisasi. Hal ini dinilai sangat relevan dengan kondisi pertanian saat ini, di mana sektor pertanian dituntut mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat dan para kelompok tani untuk melihat secara langsung bagaimana konsep pertanian modern dapat diterapkan di lapangan.
Suasana penyambutan delegasi pun berlangsung meriah. Pemerintah Desa Gempol Kolot bersama masyarakat menyambut kedatangan para peserta dengan mengangkat kearifan budaya lokal. Penyambutan diawali dengan tradisi daerah Ki Lengser, yang menjadi salah satu simbol penghormatan dalam budaya Sunda. Selain itu, para tamu juga disuguhkan penampilan TQRI Sunda serta atraksi pencak silat.

Perpaduan antara teknologi pertanian modern dengan kekayaan budaya lokal tersebut menjadi pemandangan menarik dalam kegiatan yang diikuti berbagai unsur masyarakat tersebut.
Kegiatan turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Banyusari, Kepala Desa Gempol Kolot, jajaran UPTD Pertanian Kecamatan Banyusari, kelompok tani, tokoh masyarakat serta warga masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sektor pertanian tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, masyarakat, lembaga terkait hingga pihak internasional agar inovasi pertanian dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat di tingkat bawah.
Kepala Desa Gempol Kolot, Sunardi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan sehingga wilayahnya dapat menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan peserta dari empat negara merupakan sebuah kebanggaan sekaligus pengalaman berharga bagi Pemerintah Desa Gempol Kolot dan masyarakat. Sunardi juga menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya kegiatan Pilot Project tersebut. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada kunjungan dan pengenalan teknologi semata, tetapi dapat memberikan pengetahuan serta manfaat nyata bagi perkembangan pertanian masyarakat.
“Pemerintah Desa Gempol Kolot tentunya sangat mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas terselenggaranya kegiatan ini. Bagi kami, kehadiran tamu dari empat negara merupakan suatu kebanggaan dan menjadi momentum yang sangat baik untuk memperkenalkan bagaimana pertanian kita bisa terus berkembang menuju pertanian yang lebih modern,” ujar Sunardi, Rabu 2 September 2026.
Ia menilai modernisasi pertanian menjadi sesuatu yang penting untuk terus diperkenalkan kepada para petani, terutama generasi muda yang diharapkan dapat menjadi penerus sektor pertanian di masa mendatang.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk membantu petani meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas dan pengelolaan lahan.

“Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat dan kelompok tani bisa mendapatkan wawasan baru. Kita diperkenalkan dengan cara bertani yang lebih modern dan bagaimana mekanisasi dapat membantu pekerjaan petani. Ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
Sunardi juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kearifan lokal. Menurutnya, teknologi pertanian boleh terus berkembang, tetapi budaya dan tradisi daerah tetap harus dijaga.
Hal tersebut terlihat dalam rangkaian penyambutan delegasi. Tradisi Ki Lengser, penampilan TQRI Sunda hingga pencak silat sengaja ditampilkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus memperkenalkan identitas budaya Sunda kepada para tamu.
“Teknologi boleh modern, tetapi budaya daerah jangan sampai hilang. Karena itu kami berusaha memberikan penyambutan dengan tradisi dan kesenian daerah. Mudah-mudahan para tamu juga bisa mengenal bahwa masyarakat petani di Karawang tidak hanya memiliki potensi pertanian, tetapi juga memiliki budaya dan tradisi yang harus kita jaga,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sunardi menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak terlepas dari peran berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah, UPTD pertanian, kelompok tani, tokoh masyarakat, masyarakat desa hingga pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan dukungan. Alhamdulillah kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan masyarakat juga ikut menyambut dengan baik,” tutur Sunardi.
Ia berharap pengalaman dari kegiatan tersebut dapat menjadi tambahan wawasan bagi kelompok tani di Desa Gempol Kolot dalam menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan.
Sementara itu, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting. Warga tidak hanya menyaksikan kedatangan para peserta, tetapi turut mengambil bagian dalam penyambutan sehingga suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.
Kegiatan Welcome Participants Pilot Project tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa wilayah pedesaan, khususnya sentra pertanian seperti Gempol Kolot, memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari pengembangan teknologi pertanian dan kerja sama lintas negara.
Dengan adanya pengenalan mekanisasi dan konsep pertanian cerdas iklim, diharapkan para petani semakin terbuka terhadap inovasi dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pemerintah Desa Gempol Kolot pun berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan di masa mendatang dengan melibatkan lebih banyak petani dan masyarakat, sehingga pengetahuan mengenai pertanian modern tidak hanya menjadi milik kalangan tertentu, tetapi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat petani.
Bagi Desa Gempol Kolot, kunjungan delegasi dari China, Italia, India dan Amerika Serikat tersebut menjadi catatan tersendiri sekaligus momentum untuk menunjukkan bahwa desa dan petani di Karawang siap menyambut perkembangan teknologi pertanian tanpa meninggalkan akar budaya serta kearifan lokal.
. Irwan






