KARAWANG — Kegiatan pembongkaran bangunan SMK Nurul Ansor di Desa Kemiri, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, menuai keluhan dari warga sekitar. Pasalnya, dua dapur rumah milik warga Dusun Krajan A dilaporkan mengalami kerusakan parah setelah terkena sabetan alat berat jenis beko saat proses pembongkaran berlangsung. Peristiwa tersebut menyisakan persoalan bagi pemilik rumah. Hingga Jumat (16/10/2026), kedua dapur yang mengalami kerusakan itu disebut belum diperbaiki.
Warga pun berharap pihak pemborong segera menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Salah seorang pemilik rumah, Endang, mengaku kecewa karena kerusakan pada dapur rumahnya belum mendapatkan penanganan. Ia mengatakan, hingga saat ini dirinya belum melihat adanya pertanggungjawaban dari pihak pemborong atas kerusakan yang dialaminya.
“Sudah 10 hari kurang lebih masih saya biarkan,” ujar Endang saat dikonfirmasi awak media, Jumat (16/10/2026).
Menurut Endang, kondisi dapur yang rusak membuat dirinya harus menunggu kepastian penyelesaian dari pihak yang bertanggung jawab. Ia mengaku geram karena hingga kini belum ada kejelasan mengenai perbaikan kerusakan tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Ma Acih, yang diketahui merupakan ibu dari Endang. Dapur rumah miliknya juga mengalami kerusakan parah yang diduga akibat terkena alat berat saat pembongkaran SMK Nurul Ansor berlangsung. Dengan nada sedih dan sambil menangis, Ma Acih mengungkapkan kekecewaannya. Ia berharap ada pihak yang bersedia membantu menyelesaikan persoalan kerusakan rumahnya, terlebih dirinya mengaku tidak memiliki cukup uang untuk memperbaiki dapur tersebut secara mandiri.
“Pak, saya minta tolong. Dapur saya rusak kena beko, tapi kenapa pemborong diam saja, seperti tidak mau bertanggung jawab. Sampai sekarang pun belum saya perbaiki. Uangnya dari mana? Saya kira pemborong mau bertanggung jawab, tetapi sampai sekarang tidak ada kabar berita,” ungkap Ma Acih dengan penuh harap.
Bagi Ma Acih, dapur merupakan bagian penting dari rumah yang digunakan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Kerusakan yang belum diperbaiki membuat persoalan tersebut menjadi beban tersendiri bagi dirinya dan keluarga. Ia mengaku berharap persoalan itu tidak dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, apabila kerusakan tersebut terjadi akibat aktivitas pembongkaran, pihak terkait perlu memberikan penjelasan dan mencari penyelesaian yang adil bagi warga terdampak.
“Saya berharap ada niat baik dari pemborong untuk mempertanggungjawabkan dapur saya yang rusak parah,” pungkasnya.
Warga berharap pihak pemborong maupun pihak terkait dalam kegiatan pembongkaran SMK Nurul Ansor dapat segera turun tangan untuk memeriksa kondisi bangunan yang rusak, memberikan penjelasan, serta membicarakan langkah penyelesaian bersama pemilik rumah.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak pemborong mengenai keluhan Endang dan Ma Acih. Oleh karena itu, klarifikasi dari pihak pemborong dan pihak terkait lainnya masih diperlukan untuk memperoleh informasi yang berimbang mengenai penyebab kerusakan serta penyelesaian yang akan dilakukan.
Warga berharap persoalan ini segera mendapatkan perhatian sehingga kerusakan yang dialami tidak terus berlarut-larut dan hak warga terdampak dapat diperhatikan sebagaimana mestinya.
. Boleng





