Sabtu, Oktober 10, 2026

Karawang, West Java

spot_imgspot_img

BERITA LAINNYA

spot_img

Related Posts

MBG Jadi Sorotan! Wali Murid SDN Muara 1 Cilamaya Wetan Minta Program Dihentikan Karena Mubazir, Usul Diganti Uang

KARAWANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Muara 1, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, menuai sorotan. Sejumlah orang tua/wali murid menyatakan keberatan jika program tersebut terus dilanjutkan dengan pola pelaksanaan seperti sekarang. Alasannya, makanan yang dibagikan kepada siswa disebut banyak yang tidak dimakan sehingga berpotensi menjadi mubazir.

Penolakan tersebut disampaikan sejumlah orang tua/wali murid saat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah pada Jumat (9/10/2026). Menurut mereka, program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak seharusnya benar-benar memberikan manfaat. Namun, apabila makanan yang disediakan justru tidak dikonsumsi oleh siswa, tujuan program tersebut dinilai belum tercapai secara maksimal. Para orang tua pun berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, khususnya mengenai kesesuaian menu dengan kebiasaan makan dan selera anak-anak.

“Kalau memang banyak makanan yang tidak dimakan, menurut kami itu mubazir. Kami meminta program ini kalau bisa dihentikan, atau diganti dalam bentuk uang saja karena akan lebih bermanfaat,” ungkap orang tua/wali murid.

Mereka beralasan, orang tua lebih memahami kebiasaan makan anak-anaknya, termasuk makanan yang disukai maupun yang sulit dikonsumsi. Dengan demikian, kebutuhan anak dinilai bisa disesuaikan secara lebih tepat apabila orang tua diberikan keleluasaan untuk mengatur menu makanan.

Berita Lainnya  BPD Mekarasih Banyusari Disorot! Tiga Anggota Absen di Agenda Penting Penetapan DPS Pilkades

Bukan Sekadar Dibagikan, tetapi Harus Dikonsumsi

Persoalan yang disoroti para wali murid bukan semata-mata keberadaan program MBG, melainkan manfaat nyata yang diterima anak-anak di sekolah. Menurut mereka, makanan bergizi yang sudah disiapkan seharusnya dikonsumsi oleh siswa, bukan justru tersisa atau terbuang. Jika kondisi tersebut terus terjadi, efektivitas pelaksanaan program patut menjadi bahan evaluasi bagi pihak-pihak terkait.

Mereka berharap penyelenggara MBG tidak hanya memperhatikan proses penyediaan dan pembagian makanan, tetapi juga melakukan pemantauan terhadap tingkat konsumsi siswa serta alasan makanan tidak dihabiskan. Evaluasi menu, porsi, variasi makanan, hingga kebiasaan makan anak dinilai perlu diperhatikan agar program tersebut benar-benar mencapai sasaran.

Bagi para orang tua, pemenuhan gizi anak merupakan hal penting. Namun, makanan yang diberikan juga harus sesuai dengan kebutuhan dan dapat diterima oleh siswa sehingga tidak berakhir menjadi sisa makanan.

Kepala Sekolah Benarkan Ada Aspirasi Wali Murid

Terpisah, Kepala SDN Muara 1, Agus Setiawan, S.Pd., membenarkan adanya aspirasi dari sejumlah orang tua/wali murid yang menginginkan agar program MBG tidak dilanjutkan. Saat dikonfirmasi di kantornya pada Jumat (9/10/2026), Agus menjelaskan bahwa keinginan tersebut merupakan aspirasi para orang tua selaku penerima manfaat program.

Berita Lainnya  “Tak Ada yang Terlambat, Semua Bisa Dibenahi”, Rawin Zain Siap Benahi Peran BPD Sukamulya Cilamaya Kulon

“Memang benar, para orang tua/wali murid menginginkan program MBG dihentikan atau tidak dilanjutkan. Itu keinginan mereka sendiri,” ujar Agus Setiawan.

Ia mengatakan, salah satu alasan yang disampaikan para orang tua adalah adanya makanan yang tidak dimakan siswa sehingga dikhawatirkan menjadi mubazir. Meski demikian, Agus menegaskan bahwa pihak sekolah tidak mengintervensi aspirasi tersebut.

“Kalau kami dari pihak sekolah bagaimana, karena itu keinginan orang tua siswa sebagai penerima manfaat. Kami tidak mengintervensi,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberatan yang muncul berasal dari sebagian orang tua/wali murid dan bukan merupakan keputusan resmi pihak sekolah untuk menghentikan program MBG.

Pemerintah Diminta Mendengar Aspirasi Orang Tua

Munculnya keluhan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara program agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga memastikan makanan benar-benar dikonsumsi dan memberikan manfaat bagi siswa.
Apabila makanan yang dibagikan kerap tersisa, penyelenggara perlu menelusuri penyebabnya secara objektif. Apakah berkaitan dengan jenis menu, porsi, waktu pembagian, kebiasaan makan anak, atau faktor lain yang perlu diperbaiki.

Berita Lainnya  Dugaan Penipuan Rp307 Juta Seret Bidan di Karawang, Dua Korban Diperiksa Polisi

Aspirasi orang tua juga perlu ditampung melalui komunikasi dengan pihak sekolah dan penyelenggara MBG. Dengan demikian, persoalan yang muncul dapat diselesaikan berdasarkan data dan kondisi nyata di lapangan.
Adapun usulan penggantian makanan dengan uang merupakan aspirasi sebagian wali murid yang disampaikan dalam peristiwa tersebut. Pelaksanaannya tentu perlu dibahas dan disesuaikan dengan ketentuan resmi program yang berlaku.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan mengenai tanggapan resmi penyelenggara MBG terkait keluhan dan usulan yang disampaikan para orang tua/wali murid SDN Muara 1.

Persoalan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan. Manfaatnya juga perlu dilihat dari sejauh mana makanan tersebut benar-benar dikonsumsi dan membantu memenuhi kebutuhan gizi anak. Jangan sampai makanan sudah disediakan, tetapi manfaat yang diharapkan justru tidak dirasakan secara optimal oleh penerima.

. Red

spot_img

TOP NEWS

spot_img

PEMERINTAHAN

ARTIKEL POPULER